page-head

Detail News

Harga CPO hingga akhir 2025 & awal 2026 masih didukung permintaan Global

Harga CPO hingga akhir 2025 & awal 2026 masih didukung permintaan Global

Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) diperkirakan masih akan menunjukkan tren positif hingga penghujung tahun 2025. Sejumlah faktor fundamental, mulai dari meningkatnya permintaan minyak nabati di pasar global hingga kebijakan energi terbarukan, diyakini menjadi pendorong utama pergerakan harga.

Dalam beberapa bulan terakhir, harga CPO di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) bergerak stabil di kisaran MYR 4.400 – MYR 4.550 per ton. Angka ini menandai penguatan signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu, di mana harga sempat tertekan di bawah MYR 4.000 per ton. Analis menilai tren penguatan masih memiliki ruang berlanjut, meskipun volatilitas tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari perdagangan komoditas strategis ini.

“Permintaan dari India dan Tiongkok menjadi katalis utama kenaikan harga CPO. Selain itu, kebijakan campuran biodiesel di Indonesia serta Malaysia akan memperkuat konsumsi domestik, sehingga stok ekspor terjaga,” ujar seorang analis dari sebuah rumah riset komoditas di Kuala Lumpur.

Akhir Tahun 2025: Momentum Permintaan Musiman

Memasuki kuartal terakhir tahun ini, harga CPO diproyeksikan bergerak menuju kisaran MYR 4.450 – MYR 4.650 per ton. Faktor musiman berupa peningkatan konsumsi minyak nabati jelang perayaan akhir tahun di berbagai negara Asia diperkirakan akan menjaga sentimen positif.

Selain itu, penguatan harga juga didukung oleh penurunan pasokan akibat kondisi cuaca di beberapa wilayah perkebunan. Fenomena iklim kering yang melanda sebagian area di Sumatra dan Kalimantan berpotensi menekan produksi pada kuartal IV. Walaupun dampaknya belum sekuat fenomena El Niño pada periode sebelumnya.

Di sisi lain, harga minyak nabati pesaing seperti minyak kedelai dan minyak bunga matahari diprediksi tetap berfluktuasi. Ketika harga kedelai melonjak akibat tekanan produksi di Amerika Selatan, CPO sering menjadi alternatif utama bagi importir besar. Kondisi ini memberikan ruang tambahan bagi CPO untuk mempertahankan daya saing di pasar internasional.

Awal Tahun 2026: Tantangan Baru di Tengah Optimisme

Memasuki awal tahun 2026, pasar CPO kemungkinan akan menghadapi tantangan baru. Walau tren permintaan global tetap solid, faktor geopolitik dan dinamika ekonomi dunia bisa memengaruhi arah harga. Beberapa analis memperkirakan harga CPO pada kuartal I 2026 akan bergerak di kisaran MYR 4.500 – MYR 4.600 per ton, relatif stabil dengan kecenderungan menguat terbatas.

Tantangan utama terletak pada kebijakan ekspor Indonesia yang berencana menyesuaikan tarif levy ekspor sawit. Jika kebijakan tersebut diberlakukan lebih ketat, harga di pasar global berpotensi naik karena berkurangnya volume pasokan. Namun di sisi lain, kebijakan itu juga bisa menekan daya saing CPO terhadap minyak nabati lain, terutama bila harga kedelai di pasar global terkoreksi.

“Awal 2026 akan menjadi fase konsolidasi harga. Pasar akan mencari keseimbangan baru setelah reli di 2025. Jika permintaan tetap terjaga, terutama dari sektor biodiesel, harga CPO tidak akan jatuh dalam,” jelas seorang trader komoditas dari Singapura.

Faktor Penentu Arah Harga

Ada sejumlah faktor yang harus terus dipantau pelaku pasar dalam memproyeksikan pergerakan harga CPO:

  • Kebijakan Energi – Mandat biodiesel Indonesia (B35 dan rencana B40) serta Malaysia akan menjadi fondasi kuat bagi konsumsi domestik.
  • Permintaan India & Tiongkok – Dua importir terbesar dunia ini akan terus menentukan arah permintaan global.
  • Harga Minyak Nabati Lain – Pergerakan minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) serta minyak bunga matahari dari Ukraina menjadi variabel pembanding yang penting.
  • Iklim & Produksi – Gangguan cuaca dan anomali iklim dapat memengaruhi output perkebunan, sehingga menekan atau mendorong harga.

Prospek ke Depan

Secara keseluruhan, prospek CPO hingga akhir 2025 masih positif dengan tren penguatan harga yang berkelanjutan. Sementara itu, memasuki awal 2026, meski ada potensi konsolidasi, harga diyakini tetap bertahan pada level tinggi secara historis.

Jika tren permintaan energi hijau semakin menguat dan negara importir besar meningkatkan kebutuhan, maka CPO berpotensi tetap menjadi salah satu komoditas unggulan yang paling dicari di pasar global.

“Dalam skenario optimistis, harga bisa menembus MYR 4.700 per ton pada akhir 2025. Namun di awal 2026, pasar akan lebih berhati-hati. Stabilitas ekonomi global dan kebijakan ekspor akan menjadi kunci,” pungkas analis tersebut.

Kesimpulan:
CPO masih memiliki ruang kenaikan harga hingga akhir 2025, ditopang oleh permintaan yang solid dan faktor fundamental positif. Awal 2026 diperkirakan akan membawa tantangan baru, namun tren jangka menengah tetap berpihak pada penguatan.

(11092025-ean) - PT. Equator Telequote Indonesia